Minggu, 24 Oktober 2010

Anglo Saxon - Inggris Kuno

Pertengahan abad ke-5 dianggap sebagai permulaan Sastra Inggris. Kepulauan Britania ditaklukan oleh suku-suku Teutonic, Angles dan Saxons. Suku asli ditaklukan oleh suku-suku tersebut dan tulisan-tulisannya kemudian dikenal dengan nama Anglo-Saxon. Karya-karya Sastra Inggris Kuno masih terseimpan rapi dalam bentuk manuscript di perpustakaan-perpustakaan seperti perpustakaan Museum Inggris, Oxford University, Execeter Catherdal dan sebagian kecil tersebar di beberapa tempat. Beowulf merupakan epos pertama dan terbesar yang lahir pada zaman ini.

Bahasa kuno Inggris tidak dapat dibaca kecuali oleh mereka yang secara khsusu mempelajarinya. Epos ”Beowulf” memberika gambaran yang menarik dari kehidupan pada masa itu. Epos tersebut menceritakan kepada kita kerasnya peperangan dan keberanian dari para pemimpin dan kelaparan dari orang-orangnya. Epos tersebut juga menggambarkan kepada kita tentang kehidupan di gerbang-gerbang istana, mahluk yang mengerikan yang harus mereka perangi, kapal-kapal dan pertualangan mereka. Mereka mengalami hidup yang keras di darat dan di laut.
Epos tersebut juga memberikan kita gambaran tentang nenek moyang orang Inggris sebelum mereka tiba di Britania. Inilah gambaran kehidupan mereka:
From early morning when the warriors gathered in the hall, till the hour when they ”sank asleep”, each with his armor and weapons at hand.
Itulah kebiasaan hidup mereka yang selalu siap berperang, baik di rumah maupun di arena pertempuran. Mereka adalah orang-orang yang seafaring yang percaya bahwa: Their live (and death) were ordained by fate.
Dua pujangga besar yang lahir pada masa ini adalah C├Ždmon dan Cynewulf. Pada tahun 867, Northumbrian ditaklukan oleh bangsa Denmark (Danes), yang mengahancur leburkan kerajaan dan perpustakaan-perpustakaan yang berisi karya-karya sastra terdahulu.
Pada abad ke-9, sebagai dampak dari penaklukan bangsa Denmark, aktivitas kesusasteraan Inggris berpindah dari Utara ke Selatan. Invasi bangsa Denmark dapat dihentikan oleh kepemimpinan Alfred, Raja Wessex pada tahun 878.
Periode sastra Anglo-Saxons dimulai dengan nyanian-nanyian dan dongeng ketika mereka hidup di daerah perbatasan Laut Utara. Tiga suku nenek moyang mereka, the Jutes, Angles dan Saxons menaklukan Britania di pertengahan abad ke-5 dan merupakan pelopor berdirinya Negara Inggris. Kemungkinan pendaratan pertama di Britania adalah oleh suku Jutes sekitar tahun 449.
Nenek moyang suku ini merupakan pejuang-pejuang yang berwatak keras dan penakluk lautan, tetapi juga memiliki kemampuan berfikir dan jiwa yang mulia (noble). Puisi-puisi mereka mencerminkan perwatakan yang ganda tersebut. Subyek puisi-puisi mereka sebagian besar adalah laut dan kapal yang tenggelam, peperangan, petualangan, keberanian, kegagahan para prajurit dan cinta kampung halaman.
Keberhasilan Alfred dalam peperangan melawan bangsa Denmark membawa perubahan dalam sastra dan juga politik. Pada masa kepemimpinannya dia menempatkan dirinya untuk lebih tertarik pada pendidikan dan agama, membangun rumah-rumah ibadah dan fokus pada bidang intelektual serta menerjemahkan beberapa karya sastra Latin yang berguna bagi Masyarakat Inggris. Salah satu karya yang dibuat Alfred dan rekan-rekannya adalah ”History of the World”. Salah satu prosa yang paling menarik adalah Anglo-Saxons Chronicle, dan sejarah awal Inggris. Alfred sangat memberikan pengaruh pada prosa tersebut (849-901).
Dengan berakhirnya masa Alfred, karya sastra mulai mengalami penurunan secara besar-besaran; sastra dan bahasa Anglo-Saxon perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Selama satu setengah abad diantara kematian Alfred (901) dan penaklukan bangsa Normandia (1066) nampaknya tak ada satu puisipun yang dihasilkan; dan beberapa prosa yang lahir tidak memiliki nilai sastra yang tinggi.
Pada tahun 1066 Inggris ditaklukan oleh bangsa Skandinavia yang mengalahkan Harold, raja terakhir Saxons dalam Battle of Hasting. Kedatangan bangsa baru ini tidak dapat dipungkiri memberikan pengaruh dalam segala hal kepada masyarakat Inggris.
Terlalu banyak tekanan membawa kepada pertentangan dan perpecahan antara suku bangsa Saxon dan Norman. Salah satu karya sastra yang mencerminkan perpecahan ini adalah ”Ivanhoe” pada akhir abad ke-12. Perpecahan diantara dua suku bangsa tersebut berlangsung hampir satu setengah abad dan berakhir ketika Raja Henry I, putra ketiga dari Suku Norman penguasa kerajaan Inggris, menikahi seorang keturunan langsung raja Alfred. Sehingga tidak ada lagi superior dan inferior diantara kedua suku bangsa tersebut. Henry I lahir dan dididik di Inggris dan hampir semua waktunya belajar Bahasa Inggris di sekolah.
Dampak dari penaklukan terhadap Bahasa dan Sastra Inggris
Inggris dengan segera mulai mengadopsi banyak kata-kata dari Bahasa Perancis Normandia, sehingga baik bahasa tulis maupun ucapan menjadi seperti bahasa Perancis. Selama hampir satu setengah abad setelah penaklukan, tidak nampak adanya sastra yang dimunculkan baik oleh Bangsa Norman ataupun Perancis ataupun campuran keduanya. Latin merupakan bahasa sastra Eropa dan karya sastra Inggris juga menggunakan bahasa tersebut. Sastra Inggris dalam Bahasa Latin sebagian besar dalam bentuk chronicles, dimana salah satu karya sastra Inggris yang terpenting adalah Historia Requm Britania (Sejarah Raja-raja Inggris), ditulis sekitar tahun 1135 oleh Geoffrey of Monmouth (seorang pendeta dari Welsh).
Bangsa Normandia aslinya merupakan ras atau suku penakluk laut yang keras yang mendiami kepulauan Scandinavia. Pada abad ke-10 mereka menaklukan bagian Utara Perancis yang saat ini masih disebut dengan nama Normandy yang dengan cepat mengadopsi budaya dan bahasa Perancis. Penaklukan mereka atas bangsa Anglo-Saxon di Inggris dipimpin oleh William, Pangeran Normandy, pada pertempuran Hasting tahun 1066. Sastra yang mereka bawa ke Inggris dikenal dengan keceriaannya, kata-kata cinta dan petualangan yang sangat bertentangan dengan puisi-puisi Anglo-Saxons. Tiga abad setelah peristiwa Hasting, Norman dan Saxon secara perlahan bersatu. Bahasa Anglo-Saxons menjadi sederhana dengan membuang sebagian besar infleksi suku Teutonik-nya, menyerap banyak kosa kata Perancis dan menjadi Bahasa Inggris. Sastra Inggris juga merupakan kombinasi antara elemen-elemen Perancis dan Saxon. Tiga dampak utama penaklukan Suku Bangsa Norman adalah sebagai berikut:
1) Masuknya budaya Romawi ke Inggris.
2) Tumbuhnya nasionalisme seperti timbulnya pemerintah pusat yang kuat sebagai ganti dari hilangnya persatuan suku bangsa Saxon.
3) Bahasa dan sastra baru yang diproklamirkan dalam Chaucer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar